1. Emang kata penciptanya begitu (NANDA)
2. Lagi Pula Risiko kan belom terjadi
3. Yang maksa berarti belom baca buku
4. Yang keukeuh dan ngotot : Buat aja teori sendiri dan bukukan kalo berani

Realitas

Saat saya mengajar di kelas dan membimbing mahasiswa di lapangan dan bertemu dengan mahasiswa dari program B dan clinical instructor, muncullah reaksi dari mereka, antara lain :
1. Pa, kalo diagnosa risiko nggak ada datanya dari mana kita bisa memberikan kesimpulan
2. Menurut pengalaman saya, minimal ada data objektif untuk diagnosa risiko
3. dll

Pembahasan
1. NANDA menyatakan bahwa diagnosa risiko hanya mempunyai 2 komponen yaitu pernyataan masalah (P) dan faktor risiko timbulnya masalah (E)
Artinya : ketika sudah muncul data maka data tersebut menjadi dasar untuk diagnosa keperawatan aktual, atau data tadi dijadikan menjadi faktor risiko :
Contoh : ketika muncul data luka post-operasi pada pasien maka hal tersebut menjadi diagnosa keperawatan :
a. Kerusakan integritas kulit ybd ………………… ditandai adanya luka post operasi di area………… sepanjang ………..
b. Risiko infeksi ybd rusaknya pertahanan tubuh primer setelah operasi……….. yang ditandai (ya nggak ada donk……..!!! kan risiko…!!!)

2. Saya mencoba meminta mereka untuk menentukan diagnosa keperawatan risiko yang ada datanya : Risiko infeksi ybd ………..…………. yang ditandai peningkatan leukosit
Pembahasan saya :
Jika telah terjadi peningkatan leukosit (leukositosis) maka kita harus mengidentifikasi data lainnya, karena lekositosis merupakan data minor untuk beberapa diagnosa, contoh :
Hiperthermi ybd peningkatan metabolisme basal tubuh akibat proses infeksi yang ditandai suhu : 39oC, kulit teraba panas, lekositosis dll
De el el