Benarkah Perawat Indonesia Sudah Profesional

PENDAHULUAN

Judul di atas memang terlihat sangat bombastis, sarkastis, ironis terhadap keperawatan. Ada sebagian rekan perawat ketika saya ungkapkan hal seperti judul di atas mereka langsung menganggap saya sudah tidak mencintai perawat lagi.

PROFESIONALISME PERAWAT
Usaha Profesionalisme keperawatan telah dimulai semenjak dicetuskannya pendidikan keperawatan berkelanjutan yang pada awalnya pada tahun 60-an telah dibuka program setara Diploma 3 Keperawatan dan pada tahun 1984 telah dimulai aspek profesionalisme dengan dibukanya Program Studi Ilmu Keperawatan (PSIK) di Universitas Indonesia yang merupakan bagian dari Fakultas Kedokteran pada saat itu. Perkembangan selanjutnya sangatlah menggembirakan dengan dipisahkannya PSIK dari Fakultas Kedokteran menjadi Fakultas Ilmu Keperawatan pada tahun 1995.

Saat ini setelah keran institusi pendidikan untuk mendirikan pendidikan keperawatan lebih mudah didirikan apakah perawat sudah dapat dikatakan profesional.

Suatu profesi akan profesional ketika dia dapat mengembangkan dirinya sendiri berkembang melalui riset dan penelitian
Flexner (1915) menentukan enam karakteristik aktifitas profesi, yaitu

1. Berdasarkan intelektual,
2. Dipelajari, karena berdasarkan pada “body of knowledge”
3. Praktikal daripada teoretikal
4. Tekniknya dapat diajarkan
5. Organisasi internal yang kuat
6. Motivasi terhadap pelayanan.

AROGANSI PERAWAT
Maksud dari judul di atas sebetulnya akan saya hubungkan dengan apakah memang perawat sudah yakin dengan keprofesionalannya.

Saya masih ingat ketika seorang dokter mengatakan “Kami bisa dikatakan profesional dikarenakan kami mempunyai standar/pakem yang digunakan oleh seluruh anggota kami, diantaranya dalam mendiagnosis penyakit, Contoh : dokter dari Amerika, Eropa dan yang berasal dari kota terpencil di manapun ketika datang pasien dengan kondisi salah satu tulangnya patah, maka kami akan mengatakan FRAKTUR seragam, tapi Perawat……..?”

Seorang dosen ketika saya kuliah menyelesaikan master saya pernah bertanya : “If You Have The Patient with MCI, What will you do as a nurse….??
Rekan-rekan saya yang rata-rata ahli pada bidang kardiovaskuler langsung dengan Pedenya menjawab tindakan yang biasa mereka lakukan.
Apa jawaban Dosen tersebut……? “Bukan Itu yang Saya Inginkan”
Secara spontan saya menjawab : “Depends on the Nursing Diagnosis”
Ternyata jawaban sayalah yang menurut dosen tersebut yang diharapkan.

Kasus lain : ketika mahasiswa saya sedang berdinas di suatu rumah sakit dan mereka konsultasi dengan dosen dan CI ruangan, mahasiswa tersebut dipersalahkan atas diagnosa yang dibuatnya (padahal mahasiswa sudah menerapkan askep sesuai dengan konsep dari NANDA) dan mahasiswa tersebutpun mencoba membela diri, tapi perawat/CI ruangan tadi menyatakan tetap salah dan mereka mengaku lulusan suatu institusi negeri, dan mengaku pula memegang Diagnosa dari NANDA (Padahal kenyataannya NANDA yang mana neeeehhhhhh……..? Bukunya aja kayaknya belom pernah baca tuh….!!!)

Apa Artinya hal tersebut di atas :
1. ternyata kita sebagai seorang perawat belum bangga menjadi perawat, kita lebih bangga dengan profesi lain
2. Kebiasaan membaca seorang perawat sangat kurang sehingga lebih banyak menggunakan intuisi pribadi dalam menentukan sesuatu
3. Terlalu mengagungkan almamater yang belum tentu telah memberikan kontribusi yang besar dalam peningkatan profesionalismenya
4. Perawat akan sulit menjadi suatu profesi yang kuat, jika diantara perawat sendiri tidak mempunyai standar yang pasti (Padahal udah ada, tapi ya itu dia, gak suka baca sih), contohnya yang paling sering muncul : diagnosa risiko, dalam konsepnya NANDA tidak terdapat tanda dan gejala tapi hanya dua bagian saja yaitu problem dan etiologi…… eh malah sering dipaksakan harus ada gejala, padahal munculnya tanda dan gejala itu menandakan diagnosa sudah muncul kan…!!!
5. Arogansi perawat/dosen/CI dalam membimbing menumbuhkan karaktek perawat yang tidak mau membaca dari buku tetapi berdasarkan pengalaman (kata orang sundanya muncul sumber dari percenahan he….he….he….)

SOLUSI
lalu apa dong solusinya
“BACA, BACA, BACA”
saya kira itulah solusinya bagi kita perawat untuk menuju profesionalisme,
Apa yang di baca “Apa Saja yang penting Halal”

Advertisements

9 thoughts on “Benarkah Perawat Indonesia Sudah Profesional

  1. Aky telat y ngasih comment tapi gpp dink…
    aky setuju m kang sufyan susah ngomongin perawat sekarang…
    N bukan bermaksud adanya rivalitas m dokter tapi kadang2 ada dokter yang g mau d kasih tau m perawat,y mungkin mereka merasa lebih dari Qt,tp gpp kan klaw Qt kerja sama…toh itu juga buat kebaikan pasiennya…jangan marah kalau perawat ngasih tau ya dok…hehe..
    pokoknya cayoo buat smua dh….N tetap jaga kekompakan ma smua profesi..oce…
    SEMANGAAAAAT……..

  2. pembahasan yang menarik mengenai profesioalisme perawat. sampai saat ini tetap menjadi perdebatan tentang perawat lebih2 lagi mengenai aspek legal praktik keperawatan. perawatan yang suatu profesi tidak di naungi oleh UU yg ada adapun masih permenkes dan RUU yang dah beberapa tahun di GODOG di majelis tertinggi di negara ini tp ga selesasi2. saya menjadi ingat seoarg pembimbing ruangan mengatakan ” hancurnya perawat bukan kerana profesi lain tp karena perawat itu sendiri “. sebagai contoh adakah pembimbing di keperawatan yg sabar dan telaten dalam mendidik yang banyak malah marah2. yang kedua pembibing ruangan mengangap mahasiswa keperawatan sebagai sorg yg tidak tahu dan siakp senioritas perawat ruangan yang tinggi terhadap mahasiswa keperawatan. ketiga kurangnya motovasi dari mahasiswa keperawatan itu sediri untuk mengetahui seperti apa ilmu keperawatan itu dan bagimana merawat orang, tidak ada rasa ingin tahu yang menadalam dari mahasiswa keperawatan itu sendiri sebagai contoh pembuatan ASKEP yang hanya memindah data dari rekam medik ke lembaran ASKEP. saat praktik bersama dengan dokter, PPDS, perawat, mahasiswa keperawatan siapa yang menjadi pesuruh dan apa yang mahasiswa keperawatan dapatkan jika di katakan banyak yg di dapatkan , apa yg didapatkan ( infus, njeksi , hecting, dll ) semuanya tindakan medik apa itu tugas perawat mungkin di jawab ya itu tugas limpah , tugas limpah selamanya tugas limpah dengan kata lain tugas yg sengaja di suruh dan mana kemandiriannya ???? dosen keperwatan gelaranya lebih banyak di luar keperawatan dan parahnya lagi menjamurnya institusi keperawatan di indonesia dan kurang ketatnya penyaringan mahasiswa keperawtan . mungkin itu gambaran dari sistem keperwatan di indonesia. apa yang harus di lakukan untuk sebuah profesi yang di pelopori seorg wanita mulia saat perang krim ini ???? mari kita renungkan

  3. saya sangat setuju dengan pendapat pendpat anda dan itu hampir seluruh mahasiswa keperawatan dibimbing langsungh oleh yang bukan ahlinya misalnya CI rumahsakit bukan berdasarkan science yang didapatkan dalam proses belajar mengajar (kuliah ) tapi berdasarkan pengalaman selama masah kerja dirumah sakit.banyak CI sekarang yang membimbing bukan sebagai penguat PPNI tapi beralih profesi salahsatunya sarjana kesehatan masyarakat dan itu banyak sekali. sehingga sampai kapanpun untuk bicara standar profesi ataupun persatuan keperawatan tidak tercapai karena persoalan nya banyak perawat yang menyimpang dari almamaternya

  4. yang jelas seh di indonesia tidak punya departemen kesehatan tapi yang ada tuch departemen kedokteran tau ga sech??????????????
    kasih tahu tuch para dokter yang ada di depkes, kalo bikin kebijakan jangan cuma bisa bikin kaya para dokter duank!!!!!!!!!!!
    karena ga akan ada dokter kalo ga ada yang namanya “PERAWAT”
    kalo ga percaya lihat aza di RS siapa yang jaga pasien 24 jam?????
    DOKTER ??????? tidak khan!??????????? makanya mari qta bersatu sebagai insan kesehatan utnuk mewujudkan impian qta semua menjadikan indonesia sebagai bangsa yang sehat jasmani dan rohani. bravo perawat indonesia.

  5. yang diamrik, aja ana nanda nic noc juga beda2 kata per katanya.
    apa karena ruang cakupan perawat terlalu luas, bio, psiko, sosial, sepiritual, sehingga setiap daerah, kota, negara, punya. bio, psiko, sosial, spiritual yang berbeda, jadi perawat mempunyai banyak diaknosa yang berbeda untuk setiap daerah, kota, negara..
    kenapa harus seragam :
    menurut saya gangguan rasa nyaman yeri nggak beda dengan acute pain
    heheh…. hidup perawat indonesia

  6. repot ngomong perawat sekarang, pa lagi nasib profesi di negeri tercinta ini..udah profesi lain belum sepenuhnya nrima keprofesionalan qta..,eh perawat sendiri gak mo profesional.lebih parah lagi,pemerintah belum menghargai itu.lihat tu negera tetangga qta (singapura).tiap thn da penghargaan u/ perawat.qta,…lulusan S1 aja masih dihargai IIIa.gmana mo sama ma profesi lain???? (dokter/farmasi).aq punya pengalaman menarik, gara2 usul ma dokter bedah klo px nya da kelainan EKG sebaiknya dikunsul SPD…, sejak itu dia gak mo masukkan px post op ke ICU lagi…katanya sih malas jika di ICU masih ada aq (perawat yg sok pinter kaleee..) menurutku, ni bukti jika di negeri ini nasib perawat gak hanya ditentukan satu aspek aja. tapi memang negeri ni dah parah dalam menghargai suatu profesi.

  7. Seharusnya memang begitu,kita tetap bangga pada profesi masing_masing.namun tidak dapat dipungkiri bahwa perawat tetap perawat&dokter adalah dokter..tidak ada rivalitas.kita punya kurikulum pendidikan&wewenang yang jelas &tidak boleh dilanggar sesuai kaidahnya alias harus tau dirinya siapa&porsinya bagaimana.

  8. setuju bangeut kang irman ! mustinya keperawatan teh bangganya spt dokter, seragam dari apa yg diucapin, dilakuin ma pasennya.
    tp kok daku org awam kagak nyangka kalo perawat teh belom seragam dlm menentukan “nursing diagnosis”… wah musti revolusioner donk dosennya dilatih ajah ma kang irman biar keluaran keperawatan teh sami euy.
    Eh btw punten nya ka para dosen ulah ambeuk ka abdi margi abdi mah mung pemerhati wungkul,he he he

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s